Mulai dari YouTube, Targetkan Luar Negeri (Berdasarkan Pengalaman) Mulai saja dulu. Kesalahan paling umum pemula adalah menunggu semuanya sempurna kamera mahal, laptop kencang, software editing lengkap. Faktanya, mereka yang menunggu biasanya kalah cepat dari orang yang langsung jalan dengan alat seadanya. Dari awal hingga sekarang, saya hanya menggunakan HP untuk mencari bahan video, menulis skrip, editing, hingga upload. YouTube tidak menilai mahalnya alat, tapi konsistensi dan arah konten. Tidak harus sempurna, yang penting jelas mau dibawa ke mana channel tersebut. Gunakan konsep konten faceless (tanpa menampilkan wajah). Kalau tidak percaya diri bicara di depan kamera, konten faceless adalah solusi paling realistis. Jenisnya sangat banyak: storytelling, fakta unik, kompilasi, edukasi visual, hingga video dengan voice-over. Tugasmu sederhana: riset, amati, tiru, lalu buat versi yang lebih baik atau berbeda. Jangan bilang “tidak bisa”, sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi ke...
Ada satu jenis kematian yang jarang dibicarakan bukan tubuh yang berhenti bernapas, tapi harapan yang mati lebih dulu. Dan anehnya, itu sering lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Kita tumbuh dengan skenario yang diam-diam ditulis oleh orang tua, keluarga, dan lingkungan. Anak sulung harus jadi contoh. Harus kuat. Harus berhasil. Harus jadi pegangan. Seorang ibu harus ada sampai anak-anaknya “jadi orang”. Seorang ayah harus menyaksikan anaknya berdiri mandiri. Semua itu bukan janji tertulis, tapi harapan kolektif yang dianggap wajar, seolah hidup wajib menaatinya. Masalahnya, hidup tidak pernah menandatangani kontrak itu. Kadang yang mati bukan orangnya duluan, tapi gambaran masa depan yang sudah terlanjur kita bangun di kepala. Wisuda yang dibayangkan, pekerjaan pertama, wajah orang tua yang bangga, keluarga yang “utuh”. Saat satu orang pergi, yang runtuh bukan cuma satu nyawa, tapi seluruh versi masa depan yang tidak sempat terjadi. Itulah kenapa kehilangan tertentu teras...