Ada masa ketika hidup terasa seperti sebuah ring tinju, dan kita berdiri sendirian di tengahnya. Dunia memukul tanpa ampun masalah datang sebelum luka sebelumnya sempat mengering, tekanan bertambah bahkan ketika kita sudah kelelahan, dan hari-hari terasa seperti pertarungan yang tidak pernah diberi jeda. Dalam keadaan seperti itu, bertahan hidup bukanlah soal menjadi kuat, melainkan soal bagaimana tetap bernapas di tengah serangan yang tidak berhenti.
Langkah pertama untuk bertahan adalah mengakui bahwa manusia tidak diciptakan untuk tegar setiap hari. Tidak apa-apa merasa lemah, lelah, dan kosong. Mengakui kondisi itu bukan tanda kalah, tapi tanda bahwa kita masih punya kesadaran untuk menjaga diri. Dunia boleh memukul sesering yang ia mau, tapi kita tetap berhak berhenti sejenak dan mengumpulkan tenaga tanpa merasa bersalah.
Ketika hidup terlihat terlalu besar dan menakutkan, cobalah mengecilkan dunia ke ukuran yang bisa kamu tangani. Jangan memaksa diri memikirkan keseluruhan beban. Fokus pada satu hari, atau bahkan satu jam saja. Bangun dari tempat tidur pun sudah prestasi. Mandi, makan, menyelesaikan satu tugas kecil semua itu bukti bahwa meski dipukul berkali-kali, kamu masih berusaha berdiri. Hidup kadang tidak dimenangkan dengan langkah raksasa, tapi dengan langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Pikiran yang terus-menerus menerima pukulan juga butuh dirawat sebagaimana tubuh yang memar. Jika tubuh sakit kita obati, maka pikiran yang lelah pun perlu diberi ruang aman. Menulis, menangis, berbicara pada orang yang dipercaya, atau sekadar duduk dalam diam bisa menjadi cara melepaskan tekanan. Tidak semua pertempuran harus dilawan keras; kadang bertahan adalah tentang melepaskan sedikit demi sedikit agar tidak meledak.
Lingkungan juga memegang peran penting. Ketika hidup sudah berat, satu komentar dari orang toksik bisa menjadi pukulan tambahan yang tidak perlu. Karena itu, melindungi diri dari energi buruk bukanlah egois itu adalah bentuk bertahan paling dasar. Pilih orang yang membuatmu merasa lebih tenang, bukan mereka yang menambah kerumitan hidupmu.
Pada akhirnya, bertahan hidup bukanlah sesuatu yang glamor. Tidak selalu berarti tetap kuat, tetap produktif, atau tetap tersenyum. Terkadang bertahan hanya berarti kamu memutuskan untuk tidak menyerah hari ini. Dan meskipun tidak ada yang melihatnya, keputusan kecil itu sudah cukup besar untuk dihargai.
Dunia boleh memukulmu berkali-kali, tapi selama kamu memilih bangkit sekali lagi meski pelan dan gemetar hidup ini belum berhasil menjatuhkanmu.

Komentar
Posting Komentar