Loyalitas. Bukan cinta. Bukan kebahagiaan. Bukan waktu. Semua itu masih bisa dibeli dengan cara tertentu. Tapi loyalitas? Tidak. Kalian bisa bayar orang untuk tersenyum. Bisa bayar orang untuk datang. Bisa bayar orang untuk bilang setuju. Tapi tidak bisa bayar orang untuk tetap ada saat kalian jatuh. Loyalitas adalah mata uang yang tidak beredar di pasar mana pun.
Orang kaya tahu ini paling jelas. Mereka dikelilingi ratusan orang. Pesta meriah setiap malam. Kontak telepon ribuan nomor. Tapi begitu bangkrut, berapa yang tersisa? Hampir tidak ada.
Yang datang saat kalian naik bukan loyalitas. Itu opportunis. Itu strategi. Itu investasi sosial yang dihitung dengan cermat. Begitu grafik turun, mereka menghilang lebih cepat dari asap rokok.
Dan yang paling menyakitkan, bahkan keluarga pun bisa berkhianat. Kakak beradik berebut warisan. Orang tua pilih kasih. Anak meninggalkan orang tua saat uzur. Bahkan darah pun tidak menjamin loyalitas.
Dan psikologi menunjukkan bahwa konflik paling dalam justru terjadi dalam keluarga. Karena ekspektasi tinggi. Karena rasa berhak. Karena merasa sudah berbagi DNA jadi boleh berbuat apa saja.
Padahal loyalitas bukan bawaan lahir. Loyalitas adalah pilihan yang diulang setiap hari. Dan pilihan itu mahal. Karena butuh pengorbanan. Butuh konsistensi. Butuh integritas yang tidak goyah meski ada godaan besar di depan mata.
Orang yang loyal pada kalian saat kalian tidak punya apa-apa, itulah harta sesungguhnya. Tapi berapa banyak yang seperti itu? Sangat jarang.
Karena manusia pada dasarnya egois. Ini bukan judgement. Ini fakta evolusi. Kita bertahan dengan cara memprioritaskan diri sendiri. Loyalitas adalah anomali. Adalah bug dalam sistem survival. Adalah keputusan irrasional untuk memilih orang lain di atas kepentingan diri. Makanya langka.
Perusahaan tahu ini. Makanya mereka ciptakan program loyalitas. Poin. Diskon. Hadiah. Tapi itu bukan loyalitas. Itu barter. Itu transaksi berkedok emosi. Begitu kompetitor kasih tawaran lebih baik, konsumen pindah.
Loyalitas sejati tidak punya harga. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa disewa. Tidak bisa dipalsukan. Kalian hanya bisa mendapatkannya dengan cara menjadi orang yang layak untuk diloyali. Dan itu prosesnya panjang. Bertahun-tahun. Penuh ujian. Penuh momen di mana loyalitas itu bisa saja putus tapi memilih untuk tetap bertahan.
Orang bilang uang bisa membeli segalanya. Salah. Uang bisa membeli kehadiran fisik. Tapi tidak bisa membeli kehadiran hati. Uang bisa membeli senyuman. Tapi tidak bisa membeli kejujuran di balik senyuman itu. Uang bisa membeli perlindungan. Tapi tidak bisa membeli seseorang yang rela melindungi tanpa dibayar.
Sedangkan orang yang loyal, dia akan melindungi meski tidak ada kontrak. Meski tidak ada saksi. Meski tidak ada yang tahu.

Komentar
Posting Komentar