Ada satu jenis kematian yang jarang dibicarakan bukan tubuh yang berhenti bernapas, tapi harapan yang mati lebih dulu.
Dan anehnya, itu sering lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Kita tumbuh dengan skenario yang diam-diam ditulis oleh orang tua, keluarga, dan lingkungan. Anak sulung harus jadi contoh. Harus kuat. Harus berhasil. Harus jadi pegangan. Seorang ibu harus ada sampai anak-anaknya “jadi orang”. Seorang ayah harus menyaksikan anaknya berdiri mandiri. Semua itu bukan janji tertulis, tapi harapan kolektif yang dianggap wajar, seolah hidup wajib menaatinya.
Masalahnya, hidup tidak pernah menandatangani kontrak itu.
Kadang yang mati bukan orangnya duluan, tapi gambaran masa depan yang sudah terlanjur kita bangun di kepala. Wisuda yang dibayangkan, pekerjaan pertama, wajah orang tua yang bangga, keluarga yang “utuh”. Saat satu orang pergi, yang runtuh bukan cuma satu nyawa, tapi seluruh versi masa depan yang tidak sempat terjadi.
Itulah kenapa kehilangan tertentu terasa tidak adil.
Bukan karena kematiannya semata, tapi karena ia datang sebelum waktunya menurut harapan manusia.
Dari sudut pandang Saya, ini bukan tragedi spiritual, tapi kegagalan manusia memahami satu hal sederhana dunia tidak beroperasi dengan empati. Dunia beroperasi dengan sistem yang netral. Penyakit tidak peduli kamu ibu yang dibutuhkan anak-anakmu. Waktu tidak peduli kamu anak sulung yang jadi tumpuan. Kematian tidak memilih berdasarkan kesiapan mental siapa pun.
Harapan manusialah yang membuat semua itu terasa kejam.
Kita sering bilang, “Dia orang baik, harusnya belum pergi.”
Kalimat itu terdengar manusiawi, tapi secara logika, tidak relevan.
Kebaikan tidak memberi kekebalan. Tanggung jawab tidak memberi umur panjang. Cinta tidak menjamin penundaan kehilangan.
Dan ketika harapan mati lebih dulu, yang tersisa bukan hanya duka, tapi kebingungan identitas.
“Kalau dia tidak ada, lalu aku siapa?”
“Aku masih harus jadi anak sulung versi siapa?”
“Aku masih harus kuat untuk siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu jarang dijawab, karena masyarakat lebih sibuk menyuruh kita “ikhlas” daripada mengakui bahwa tidak semua kehilangan bisa dirapikan secara emosional.
Saya tidak akan bilang semua ini adalah rencana indah.
Saya juga tidak akan bilang ini ujian supaya kamu lebih kuat.
Itu terlalu romantis untuk sesuatu yang pada dasarnya brutal.
Yang lebih jujur adalah ini
kehilangan memaksa manusia hidup tanpa peta.
Dan tidak semua orang selamat dari fase itu.
Tapi ada satu keputusan yang bisa diambil berhenti hidup untuk harapan yang sudah mati. Bukan berarti melupakan orangnya, tapi berhenti membiarkan masa depan yang tidak terjadi mengendalikan hidup yang masih berjalan.
Orang yang sudah pergi tidak membutuhkan keberhasilanmu.
Yang membutuhkan adalah orang yang masih hidup termasuk dirimu sendiri.
Mungkin hidup tidak akan pernah “lebih baik”.
Mungkin lubang itu tidak akan pernah tertutup.
Tapi kamu bisa berhenti menunggu dunia berlaku adil, dan mulai membangun hidup tanpa meminta izin dari masa lalu.
Karena pada akhirnya, ketika harapan mati lebih dulu dari orangnya, satu-satunya pilihan yang tersisa bukan bangkit dengan heroik melainkan bertahan tanpa ilusi.
Dan itu, meski tidak indah, adalah bentuk kekuatan yang paling nyata.
Dunia tidak membunuh harapan. Manusialah yang terlalu cepat percaya hidup akan adil.

Komentar
Posting Komentar