Ketidakpastian adalah bentuk siksaan paling halus yang diciptakan pikiran manusia. Ada alasan mengapa kita lebih tersiksa oleh “bagaimana kalau” daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Otak kita dibangun oleh sejarah panjang evolusi yang memprioritaskan kewaspadaan. Di masa lalu, salah menyimpulkan ancaman bisa berarti mati, sehingga otak belajar bersikap curiga terhadap segala hal yang tidak jelas. Masalahnya, insting itu masih bekerja di zaman modern, di mana bahaya fisik jarang terjadi, tetapi ancaman emosional terasa jauh lebih nyata. Ketika seseorang tidak memberi jawaban, ketika hasil yang kita tunggu tak kunjung datang, atau ketika hidup terasa menggantung di antara pilihan yang belum kita ambil otak otomatis masuk ke mode siaga, seakan musuh sedang datang, padahal tidak ada apa-apa di depan kita kecuali kecemasan sendiri.
Ketidakpastian menciptakan ruang kosong, dan ruang kosong itu selalu diisi oleh imajinasi yang paling gelap. Manusia berpikir bahwa membayangkan kemungkinan terburuk akan membuat dirinya siap. Ini mekanisme perlindungan jika kamu sudah siap menghadapi hal yang paling buruk, kamu tidak akan terlalu hancur jika itu terjadi. Tapi imajinasi punya sifat yang jauh lebih kejam daripada realita. Kenyataan biasanya konkret dan terbatas: kamu tahu apa yang harus diterima dan disesali. Namun ketakutan imajiner tidak punya batas. Ia bisa tumbuh tanpa arah, merangkak ke dalam pikiranmu di malam hari, dan membuatmu merasakan sakit yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Pada akhirnya, manusia bukan disakiti oleh kenyataan tetapi oleh apa yang mereka bayangkan terjadi.
Itulah ironi besar yang sering tidak disadari kepastian, betapapun pahitnya, selalu lebih ringan daripada bayangannya. Karena kepastian memberikan batas. “Ini faktanya. Titik.” Tapi ketidakpastian adalah jurang tanpa dasar. Kamu tidak tahu apa yang ada di bawah sana, dan karena itu otak tidak berhenti membuat kemungkinan. Kamu memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, lalu tubuhmu meresponsnya seolah itu nyata: jantung berdebar, kepala sesak, perut melilit. Inilah alasan mengapa seseorang bisa lebih stres menunggu diagnosis daripada menerima diagnosis itu sendiri. Ketika kebenaran muncul, rasa sakit memang ada, tapi di balik itu datang ketenangan setidaknya sekarang aku tahu apa yang sedang kuhadapi.
Ketidakpastian adalah bentuk penyiksaan diri yang diciptakan manusia hanya karena mereka takut pada satu hal kehilangan kendali. Selama sesuatu belum pasti, kita merasa masih punya sedikit ruang untuk berharap atau sedikit ruang untuk menghindar. Tapi harapan dan ketakutan yang muncul dari ruang itu justru membuat kita tersiksa. Kebenaran sering kali lebih mudah diterima daripada proses menuju kebenaran itu sendiri. Dan mungkin manusia sebenarnya bukan makhluk yang paling kuat mereka hanya makhluk yang paling pandai menyiksa diri dengan bayangan yang belum tentu terjadi.
“Kepastian melukai sekali. Ketidakpastian melukai sedikit demi sedikit, tanpa henti.”
Komentar
Posting Komentar