Langsung ke konten utama

Bagaimana cara mendapatkan uang dari internet?

Mulai dari YouTube, Targetkan Luar Negeri (Berdasarkan Pengalaman) Mulai saja dulu. Kesalahan paling umum pemula adalah menunggu semuanya sempurna kamera mahal, laptop kencang, software editing lengkap. Faktanya, mereka yang menunggu biasanya kalah cepat dari orang yang langsung jalan dengan alat seadanya. Dari awal hingga sekarang, saya hanya menggunakan HP untuk mencari bahan video, menulis skrip, editing, hingga upload. YouTube tidak menilai mahalnya alat, tapi konsistensi dan arah konten. Tidak harus sempurna, yang penting jelas mau dibawa ke mana channel tersebut. Gunakan konsep konten faceless (tanpa menampilkan wajah). Kalau tidak percaya diri bicara di depan kamera, konten faceless adalah solusi paling realistis. Jenisnya sangat banyak: storytelling, fakta unik, kompilasi, edukasi visual, hingga video dengan voice-over. Tugasmu sederhana: riset, amati, tiru, lalu buat versi yang lebih baik atau berbeda. Jangan bilang “tidak bisa”, sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi ke...

Status Bencana Nasional

Tidak perlu dibungkus manis. Bencana banjir di Sumatera itu tidak pantas disebut sebagai “bencana nasional”, karena di balik setiap arus lumpur, setiap rumah yang hanyut, ada jejak tangan manusia tangan yang meneken izin tambang, menumbangkan pohon, menggunduli hutan, dan menukar sungai dengan jalan raya demi korporasi.

Pemerintah enggan menjadikannya sebagai bencana nasional karena pada dasarnya ini bukan bencana alam. Ini kejahatan yang direncanakan.

Banjir dan longsor yang menenggelamkan rumah, ladang, serta kehidupan itu bukan bencana. Itu adalah reaksi alam terhadap kejahatan manusia tangan-tangan yang tanpa malu menjual hutan kepada perusahaan, menjual sungai kepada tambang, dan menjual masa depan kepada perkebunan sawit.

Ini adalah hasil dari keputusan politik: tangan yang meneken izin konsesi, yang mengubah peta DAS, yang menakar hutan bukan sebagai penyangga kehidupan, tapi sebagai aset laba.

Apa yang kamu harapkan dari negara yang menganggap rakyatnya hanya sebagai angka statistik untuk lembaga survei? Apa yang kamu harapkan dari pejabat yang hanya menjadikan rakyat sebagai lumbung suara pemilu? Sudahi ekspektasi yang terlalu tinggi itu.

Setiap rumah yang hanyut dan setiap desa yang luluh adalah tanda bahwa negara telah gagal melindungi rakyat, gagal menjaga alam, gagal menjadi penjaga hidup, dan justru menjadi penjaja kerusakan.

Pemerintah juga tidak sebodoh itu untuk menetapkan status bencana nasional, karena pertanyaan besar akan muncul

Siapa yang memberikan izin tambang?

Siapa yang mengubah hutan jadi perkebunan sawit?

Siapa yang menandatangani izin pembukaan lahan di daerah rawan banjir?

Jika ditetapkan sebagai bencana nasional, maka pemerintah harus mengakui bahwa sebagian besar kerusakan adalah hasil dari keputusan mereka sendiri.

Data Kehilangan Hutan 2024 KLHK

Indonesia kehilangan ± 175.400 hektar hutan hanya dalam satu tahun.

Mayoritas terjadi di hutan alam, kawasan yang seharusnya menyerap air, menjaga kestabilan tanah, dan menahan erosi. Ketika ini hilang, banjir dan longsor adalah konsekuensi logis.

Data Banjir & Longsor BNPB

Korban tewas akibat banjir-longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 2025: puluhan orang, ratusan ribu mengungsi.

Padang Kayu Gelondongan Terbawa ke Pantai

Ribuan batang kayu ukuran besar hingga kecil menumpuk di sepanjang Pantai Padang kayu yang jelas bukan dari proses alami, diduga kuat dari aktivitas pembalakan di hulu sungai.

Deforestasi Nusantara (2025)

Meski mengklaim green city, pembangunan IKN sudah membuka ±20.000 hektar hutan. Ini menambah tekanan ekologi dan memperparah ketidakseimbangan lingkungan nasional.

Sumatera Episentrum Deforestasi

Pulau yang paling parah kehilangan tutupan hutan adalah Sumatera, yang ironisnya juga menjadi pusat bencana banjir-longsor.

Sekarang, sudah jelas kenapa inkompetensi jauh lebih berbahaya daripada kejahatan.

Kejahatan dilakukan sengaja, tapi inkompetensi memungkinkan bencana itu terjadi berkali-kali tanpa ada yang bertanggung jawab.

Yang mereka salahkan?

Hujan.

Cuaca.

Petani.

Siapa pun asal bukan mereka sendiri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Memendam Emosi: Mental Rapuh

Ada orang yang tampak selalu tenang, jarang marah, bahkan jarang menangis. Di mata orang lain, mereka terlihat kuat, rasional, dan mampu mengendalikan diri. Tapi kenyataannya, seseorang yang tidak pernah mengekspresikan emosinya secara sehat sedang menumpuk tekanan dari dalam. Menahan perasaan baik itu kemarahan, kesedihan, frustrasi, atau kekecewaan tidak membuatnya hilang. Sebaliknya, emosi itu bertransformasi menjadi tekanan halus yang konstan, yang lama-lama bisa memicu stres kronis, kecemasan, depresi, dan kerentanan mental yang lebih besar daripada orang yang tampak emosional. Orang yang jarang menangis, misalnya, mungkin telah belajar bahwa menunjukkan kesedihan adalah tanda kelemahan. Setiap air mata yang ditahan menjadi energi emosional yang tersimpan, yang pada akhirnya bisa meledak di situasi yang tampak sepele. Mereka mungkin selalu terlihat tegar di depan teman, keluarga, atau rekan kerja, tapi di balik itu, ada ketidakstabilan yang tidak terlihat.  Contohnya, seseoran...

Kenapa Otak Manusia Lebih Suka Siksaan Psikologis Daripada Kepastian?

Ketidakpastian adalah bentuk siksaan paling halus yang diciptakan pikiran manusia. Ada alasan mengapa kita lebih tersiksa oleh “bagaimana kalau” daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Otak kita dibangun oleh sejarah panjang evolusi yang memprioritaskan kewaspadaan. Di masa lalu, salah menyimpulkan ancaman bisa berarti mati, sehingga otak belajar bersikap curiga terhadap segala hal yang tidak jelas. Masalahnya, insting itu masih bekerja di zaman modern, di mana bahaya fisik jarang terjadi, tetapi ancaman emosional terasa jauh lebih nyata. Ketika seseorang tidak memberi jawaban, ketika hasil yang kita tunggu tak kunjung datang, atau ketika hidup terasa menggantung di antara pilihan yang belum kita ambil otak otomatis masuk ke mode siaga, seakan musuh sedang datang, padahal tidak ada apa-apa di depan kita kecuali kecemasan sendiri. Ketidakpastian menciptakan ruang kosong, dan ruang kosong itu selalu diisi oleh imajinasi yang paling gelap. Manusia berpikir bahwa membayangkan kemungkin...

Apakah Harta Bisa Dibawa Mati?

Manusia menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa mereka genggam selamanya. Harta, posisi, kenyamanan semua itu hanya singgah, tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Dan ketika hidup berakhir, tidak ada yang ikut menemani kecuali amal dan nilai yang kita tinggalkan untuk orang lain. Harta memang tidak bisa kita bawa masuk ke dalam kubur secara fisik. Tetapi nilai dari harta itu masih bisa mengikuti perjalanan kita bukan dalam bentuk benda, melainkan dalam bentuk pahala, jejak kebaikan, dan kebermanfaatan yang terus hidup setelah kita tiada. Itulah mengapa sedekah, wakaf, membantu sesama, atau menggunakan harta untuk hal yang bermanfaat menjadi jalan yang membuat harta itu tetap hidup bahkan ketika pemiliknya sudah tidak bernapas. Harta yang dipakai hanya untuk memanjakan diri akan hilang bersama waktu. Tapi harta yang dipakai untuk menolong orang lain, membangun sesuatu yang bermanfaat, atau membantu kehidupan seseorang itu adalah harta yang tidak mat...