Mulai dari YouTube, Targetkan Luar Negeri (Berdasarkan Pengalaman) Mulai saja dulu. Kesalahan paling umum pemula adalah menunggu semuanya sempurna kamera mahal, laptop kencang, software editing lengkap. Faktanya, mereka yang menunggu biasanya kalah cepat dari orang yang langsung jalan dengan alat seadanya. Dari awal hingga sekarang, saya hanya menggunakan HP untuk mencari bahan video, menulis skrip, editing, hingga upload. YouTube tidak menilai mahalnya alat, tapi konsistensi dan arah konten. Tidak harus sempurna, yang penting jelas mau dibawa ke mana channel tersebut. Gunakan konsep konten faceless (tanpa menampilkan wajah). Kalau tidak percaya diri bicara di depan kamera, konten faceless adalah solusi paling realistis. Jenisnya sangat banyak: storytelling, fakta unik, kompilasi, edukasi visual, hingga video dengan voice-over. Tugasmu sederhana: riset, amati, tiru, lalu buat versi yang lebih baik atau berbeda. Jangan bilang “tidak bisa”, sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi ke...
Sebagian besar penderitaan manusia tidak datang dari kejadian itu sendiri, melainkan dari cara pikiran kita menafsirkan kejadian tersebut. Saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, otak sering kali langsung bekerja terlalu aktif, membayangkan skenario terburuk yang bahkan belum tentu terjadi. Pikiran memperbesar rasa sakit, padahal realitasnya sering jauh lebih sederhana. Ambil contoh yang sangat umum. Ketika seseorang tidak membalas pesan, pikiran langsung melompat ke berbagai asumsi negatif. “Dia marah,” “Aku salah bicara,” atau “Aku sudah tidak penting lagi.” Padahal faktanya bisa sesederhana orang tersebut sedang sibuk, tertidur, kehabisan baterai, atau memang belum sempat membuka pesan. Namun pikiran kita jarang mau menunggu klarifikasi; ia lebih suka mengisi kekosongan dengan cerita buatan sendiri. Pikiran manusia memang sangat kreatif, tetapi sayangnya kreativitas ini sering digunakan untuk menciptakan narasi yang menyakitkan. Kita menulis skenario di kepala tanpa bukti y...