Apakah kamu percaya setiap orang punya sisi baik dan buruk? Karena aku pribadi tidak. Bukan pesimis, tapi karena kenyataan sering menunjukkan hal berbeda. Menurutku, manusia tidak benar-benar punya “sisi baik”, yang ada hanya kepentingan. Orang bersikap baik bukan karena dia baik, tapi karena otaknya menghitung bahwa itu lebih aman, lebih menguntungkan, atau lebih mengangkat posisi sosialnya. Manusia pada dasarnya adalah mesin survival. Setiap tindakan bahkan senyum atau kepedulian punya motif.
Contoh paling dekat adalah cinta seorang ibu. Banyak yang bilang itu cinta tanpa syarat, tapi kenapa hewan juga melindungi anaknya? Apakah singa punya moralitas? Tentu tidak. Itu naluri biologis agar spesies bertahan. Cinta terasa mulia, tapi dasarnya tetap biologi. Sama halnya ketika kita menolong orang kecelakaan. Bukan karena kita malaikat, tapi karena empati adalah kemampuan otak membayangkan diri sendiri di posisi orang lain. Empati bukan altruisme murni; itu strategi bertahan hidup yang terbukti efektif dalam evolusi.
Bahkan donatur yang dermawan pun tetap mengharapkan sesuatu, entah itu rasa lega, pengakuan, validasi, atau pelarian dari rasa bersalah. Tidak ada kebaikan yang benar-benar gratis. Penelitian juga membuktikan bahwa ketika seseorang berbuat baik, area reward di otak menyala dan menghasilkan dopamine. Artinya, sebagian besar “kebaikan” dilakukan karena rasanya enak, bukan murni karena peduli. Bahkan tindakan paling suci pun meninggalkan jejak egois.
Dunia sosial adalah panggung, dan semua orang adalah aktor. Orang jujur bukan karena jujur itu mulia, tapi karena jujur lebih aman daripada berbohong. Orang setia bukan karena cinta murni, tapi karena biaya selingkuh terlalu tinggi. Semua keputusan moral, pada akhirnya, adalah perhitungan untung rugi yang dilakukan otak secara otomatis. Bahkan orang suci sekalipun bertransaksi mereka menolak dunia karena percaya ada imbalan lebih besar di akhirat.
Saya tidak bilang manusia jahat. Saya bilang manusia netral. Baik dan buruk adalah label yang kita tempel untuk membuat dunia terasa teratur. Tapi jika label itu dilepas, yang tersisa adalah makhluk yang ingin bertahan. Dalam kondisi ekstrem, orang baik bisa membunuh. Dalam kondisi aman, orang jahat bisa menolong. Yang membentuk manusia bukan moralitas, tetapi konteks. Jadi pertanyaannya bukan “apakah manusia baik atau buruk?” melainkan “situasi apa yang mendorong manusia memilih tindakan yang kita sebut baik?”
Kesimpulannya sederhana moralitas bukan bawaan. Moralitas adalah strategi. Dan strategi selalu berubah mengikuti medan.
Komentar
Posting Komentar