Langsung ke konten utama

Bagaimana cara mendapatkan uang dari internet?

Mulai dari YouTube, Targetkan Luar Negeri (Berdasarkan Pengalaman) Mulai saja dulu. Kesalahan paling umum pemula adalah menunggu semuanya sempurna kamera mahal, laptop kencang, software editing lengkap. Faktanya, mereka yang menunggu biasanya kalah cepat dari orang yang langsung jalan dengan alat seadanya. Dari awal hingga sekarang, saya hanya menggunakan HP untuk mencari bahan video, menulis skrip, editing, hingga upload. YouTube tidak menilai mahalnya alat, tapi konsistensi dan arah konten. Tidak harus sempurna, yang penting jelas mau dibawa ke mana channel tersebut. Gunakan konsep konten faceless (tanpa menampilkan wajah). Kalau tidak percaya diri bicara di depan kamera, konten faceless adalah solusi paling realistis. Jenisnya sangat banyak: storytelling, fakta unik, kompilasi, edukasi visual, hingga video dengan voice-over. Tugasmu sederhana: riset, amati, tiru, lalu buat versi yang lebih baik atau berbeda. Jangan bilang “tidak bisa”, sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi ke...

Mengapa seseorang bisa merasa depresi?

Kurang Pegangan Hidup.

Coba kalian bayangkan sedang berdiri di tepi jurang. Gelap. Angin kencang. Kalau ada pegangan, kalian tenang saja. Tapi kalau tidak ada?

Itulah depresi.

Pegangan ini bentuknya macam-macam. Bisa agama. Bisa keyakinan. Bisa support system dari keluarga atau sahabat. Intinya sesuatu yang bikin kalian merasa hidup ini punya makna, punya arah, punya tujuan.

Tanpa pegangan, hidup jadi hampa.

Menariknya, ini bukan teori saya sembarangan. Ada datanya.

Korea Selatan, negara maju dengan ekonomi kuat, punya tingkat bundir tertinggi di antara negara OECD. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2019, angkanya mencapai 24,6 per 100.000 penduduk.

China juga tinggi. Negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia, meski terkenal dengan sistem kesejahteraan terbaiknya, tetap bergulat dengan angka depresi dan bundir yang tidak main-main.

Apa kesamaan mereka?

Tingkat sekularisasi yang sangat tinggi. Mayoritas penduduknya ateis atau agnostik. Agama tidak lagi jadi pegangan utama dalam idup mereka.

Jangan salah paham dulu. Saya bukan mau bilang ateis pasti depresi. Bukan begitu maksudnya.

Yang saya maksud adalah ketiadaan pegangan fundamental.

Ketika manusia hidup tanpa anchor, tanpa sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri untuk dipegang, mereka jadi rapuh. Setiap masalah terasa lebih berat. Setiap kegagalan terasa lebih menyakitkan.

Kalau hidup cuma soal kerja, uang, dan kesenangan sesaat, lalu apa yang terjadi saat semua itu runtuh? Saat kalian kehilangan pekerjaan. Saat orang yang kalian cintai pergi. Saat tubuh mulai sakit.

Kalau tidak ada pegangan, kalian jatuh bebas.

Ini bukan soal kaya atau miskin. Korea Selatan itu negara makmur. Tapi tingkat kebahagiaannya rendah. Finlandia punya sistem pendidikan terbaik di dunia. Tapi tingkat konsumsi antidepresannya juga tinggi.

Materi tidak cukup.

Saya sudah berkali kali megutip buku "Man's Search for Meaning" bahwa manusia bisa bertahan dalam penderitaan apa pun selama mereka punya makna untuk hidup.

Bahwa: "Yang punya 'mengapa' untuk hidup, bisa bertahan dengan 'bagaimana' apa pun."

Itulah pegangan.

Agama memberikan pegangan itu. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar: Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Ke mana saya akan pergi setelah mati?

Tanpa jawaban itu, hidup terasa absurd. Tanpa makna. Eksistensialisme menyebutnya sebagai "kecemasan eksistensial" ketika manusia menyadari kehampaan hidup yang tidak punya tujuan akhir.

Makanya di negara-negara yang sangat sekuler, meski secara materi mereka berkecukupan, tingkat depresi tetap tinggi. Karena ada kekosongan spiritual yang tidak bisa diisi oleh uang atau kesuksesan.

Sebaliknya, di banyak negara berkembang dengan tingkat religiusitas tinggi, meski ekonominya pas-pasan, tingkat kebahagiaan subjektifnya justru lebih tinggi. Data World Happiness Report konsisten menunjukkan ini.

Bukan berarti kemiskinan itu baik. Bukan.

Tapi menunjukkan bahwa ada dimensi lain dari kesejahteraan manusia yang tidak bisa diukur dari angka GDP atau pendapatan per kapita.

Dimensi spiritual. Dimensi makna.

Depresi modern banyak muncul dari krisis makna. Dari kehampaan eksistensial. Dari tidak punya pegangan saat badai hidup datang menerjang.

Kalian bisa punya segalanya tapi tetap merasa hampa.

Karena yang kalian butuhkan bukan sekadar "sesuatu". Tapi sesuatu yang bisa jadi pegangan. Sesuatu yang membuat hidup ini terasa berharga, bermakna, dan layak untuk diperjuangkan.

Itulah mengapa seseorang bisa depresi.

Bukan hanya soal ketidakseimbangan serotonin di otak. Tapi soal kehilangan pegangan dalam hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Memendam Emosi: Mental Rapuh

Ada orang yang tampak selalu tenang, jarang marah, bahkan jarang menangis. Di mata orang lain, mereka terlihat kuat, rasional, dan mampu mengendalikan diri. Tapi kenyataannya, seseorang yang tidak pernah mengekspresikan emosinya secara sehat sedang menumpuk tekanan dari dalam. Menahan perasaan baik itu kemarahan, kesedihan, frustrasi, atau kekecewaan tidak membuatnya hilang. Sebaliknya, emosi itu bertransformasi menjadi tekanan halus yang konstan, yang lama-lama bisa memicu stres kronis, kecemasan, depresi, dan kerentanan mental yang lebih besar daripada orang yang tampak emosional. Orang yang jarang menangis, misalnya, mungkin telah belajar bahwa menunjukkan kesedihan adalah tanda kelemahan. Setiap air mata yang ditahan menjadi energi emosional yang tersimpan, yang pada akhirnya bisa meledak di situasi yang tampak sepele. Mereka mungkin selalu terlihat tegar di depan teman, keluarga, atau rekan kerja, tapi di balik itu, ada ketidakstabilan yang tidak terlihat.  Contohnya, seseoran...

Kenapa Otak Manusia Lebih Suka Siksaan Psikologis Daripada Kepastian?

Ketidakpastian adalah bentuk siksaan paling halus yang diciptakan pikiran manusia. Ada alasan mengapa kita lebih tersiksa oleh “bagaimana kalau” daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Otak kita dibangun oleh sejarah panjang evolusi yang memprioritaskan kewaspadaan. Di masa lalu, salah menyimpulkan ancaman bisa berarti mati, sehingga otak belajar bersikap curiga terhadap segala hal yang tidak jelas. Masalahnya, insting itu masih bekerja di zaman modern, di mana bahaya fisik jarang terjadi, tetapi ancaman emosional terasa jauh lebih nyata. Ketika seseorang tidak memberi jawaban, ketika hasil yang kita tunggu tak kunjung datang, atau ketika hidup terasa menggantung di antara pilihan yang belum kita ambil otak otomatis masuk ke mode siaga, seakan musuh sedang datang, padahal tidak ada apa-apa di depan kita kecuali kecemasan sendiri. Ketidakpastian menciptakan ruang kosong, dan ruang kosong itu selalu diisi oleh imajinasi yang paling gelap. Manusia berpikir bahwa membayangkan kemungkin...

Apakah Harta Bisa Dibawa Mati?

Manusia menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa mereka genggam selamanya. Harta, posisi, kenyamanan semua itu hanya singgah, tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Dan ketika hidup berakhir, tidak ada yang ikut menemani kecuali amal dan nilai yang kita tinggalkan untuk orang lain. Harta memang tidak bisa kita bawa masuk ke dalam kubur secara fisik. Tetapi nilai dari harta itu masih bisa mengikuti perjalanan kita bukan dalam bentuk benda, melainkan dalam bentuk pahala, jejak kebaikan, dan kebermanfaatan yang terus hidup setelah kita tiada. Itulah mengapa sedekah, wakaf, membantu sesama, atau menggunakan harta untuk hal yang bermanfaat menjadi jalan yang membuat harta itu tetap hidup bahkan ketika pemiliknya sudah tidak bernapas. Harta yang dipakai hanya untuk memanjakan diri akan hilang bersama waktu. Tapi harta yang dipakai untuk menolong orang lain, membangun sesuatu yang bermanfaat, atau membantu kehidupan seseorang itu adalah harta yang tidak mat...