Kurang Pegangan Hidup.
Coba kalian bayangkan sedang berdiri di tepi jurang. Gelap. Angin kencang. Kalau ada pegangan, kalian tenang saja. Tapi kalau tidak ada?
Itulah depresi.
Pegangan ini bentuknya macam-macam. Bisa agama. Bisa keyakinan. Bisa support system dari keluarga atau sahabat. Intinya sesuatu yang bikin kalian merasa hidup ini punya makna, punya arah, punya tujuan.
Tanpa pegangan, hidup jadi hampa.
Menariknya, ini bukan teori saya sembarangan. Ada datanya.
Korea Selatan, negara maju dengan ekonomi kuat, punya tingkat bundir tertinggi di antara negara OECD. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2019, angkanya mencapai 24,6 per 100.000 penduduk.
China juga tinggi. Negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Swedia, meski terkenal dengan sistem kesejahteraan terbaiknya, tetap bergulat dengan angka depresi dan bundir yang tidak main-main.
Apa kesamaan mereka?
Tingkat sekularisasi yang sangat tinggi. Mayoritas penduduknya ateis atau agnostik. Agama tidak lagi jadi pegangan utama dalam idup mereka.
Jangan salah paham dulu. Saya bukan mau bilang ateis pasti depresi. Bukan begitu maksudnya.
Yang saya maksud adalah ketiadaan pegangan fundamental.
Ketika manusia hidup tanpa anchor, tanpa sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri untuk dipegang, mereka jadi rapuh. Setiap masalah terasa lebih berat. Setiap kegagalan terasa lebih menyakitkan.
Kalau hidup cuma soal kerja, uang, dan kesenangan sesaat, lalu apa yang terjadi saat semua itu runtuh? Saat kalian kehilangan pekerjaan. Saat orang yang kalian cintai pergi. Saat tubuh mulai sakit.
Kalau tidak ada pegangan, kalian jatuh bebas.
Ini bukan soal kaya atau miskin. Korea Selatan itu negara makmur. Tapi tingkat kebahagiaannya rendah. Finlandia punya sistem pendidikan terbaik di dunia. Tapi tingkat konsumsi antidepresannya juga tinggi.
Materi tidak cukup.
Saya sudah berkali kali megutip buku "Man's Search for Meaning" bahwa manusia bisa bertahan dalam penderitaan apa pun selama mereka punya makna untuk hidup.
Bahwa: "Yang punya 'mengapa' untuk hidup, bisa bertahan dengan 'bagaimana' apa pun."
Itulah pegangan.
Agama memberikan pegangan itu. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar: Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Ke mana saya akan pergi setelah mati?
Tanpa jawaban itu, hidup terasa absurd. Tanpa makna. Eksistensialisme menyebutnya sebagai "kecemasan eksistensial" ketika manusia menyadari kehampaan hidup yang tidak punya tujuan akhir.
Makanya di negara-negara yang sangat sekuler, meski secara materi mereka berkecukupan, tingkat depresi tetap tinggi. Karena ada kekosongan spiritual yang tidak bisa diisi oleh uang atau kesuksesan.
Sebaliknya, di banyak negara berkembang dengan tingkat religiusitas tinggi, meski ekonominya pas-pasan, tingkat kebahagiaan subjektifnya justru lebih tinggi. Data World Happiness Report konsisten menunjukkan ini.
Bukan berarti kemiskinan itu baik. Bukan.
Tapi menunjukkan bahwa ada dimensi lain dari kesejahteraan manusia yang tidak bisa diukur dari angka GDP atau pendapatan per kapita.
Dimensi spiritual. Dimensi makna.
Depresi modern banyak muncul dari krisis makna. Dari kehampaan eksistensial. Dari tidak punya pegangan saat badai hidup datang menerjang.
Kalian bisa punya segalanya tapi tetap merasa hampa.
Karena yang kalian butuhkan bukan sekadar "sesuatu". Tapi sesuatu yang bisa jadi pegangan. Sesuatu yang membuat hidup ini terasa berharga, bermakna, dan layak untuk diperjuangkan.
Itulah mengapa seseorang bisa depresi.
Bukan hanya soal ketidakseimbangan serotonin di otak. Tapi soal kehilangan pegangan dalam hidup.

Komentar
Posting Komentar