Langsung ke konten utama

Bagaimana cara mendapatkan uang dari internet?

Mulai dari YouTube, Targetkan Luar Negeri (Berdasarkan Pengalaman) Mulai saja dulu. Kesalahan paling umum pemula adalah menunggu semuanya sempurna kamera mahal, laptop kencang, software editing lengkap. Faktanya, mereka yang menunggu biasanya kalah cepat dari orang yang langsung jalan dengan alat seadanya. Dari awal hingga sekarang, saya hanya menggunakan HP untuk mencari bahan video, menulis skrip, editing, hingga upload. YouTube tidak menilai mahalnya alat, tapi konsistensi dan arah konten. Tidak harus sempurna, yang penting jelas mau dibawa ke mana channel tersebut. Gunakan konsep konten faceless (tanpa menampilkan wajah). Kalau tidak percaya diri bicara di depan kamera, konten faceless adalah solusi paling realistis. Jenisnya sangat banyak: storytelling, fakta unik, kompilasi, edukasi visual, hingga video dengan voice-over. Tugasmu sederhana: riset, amati, tiru, lalu buat versi yang lebih baik atau berbeda. Jangan bilang “tidak bisa”, sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi ke...

Mengapa redenominasi rupiah sepertinya sulit untuk direalisasikan?

Kita Tidak Percaya.

Bayangkan begini. Pemerintah bilang seribu rupiah jadi satu rupiah. Nilai sama, cuma angkanya dipangkas nol.

Secara matematis masuk akal.

Tapi tidak semua orang berfikir seperti itu .

Misalnya Nenek di pasar tradisional yang jual sayur, dia tidak peduli penjelasan ekonomi makro. Dia cuma tahu uang dia tiba-tiba jadi "kecil".

Tiga puluh ribu rupiah jadi tiga puluh rupiah.

Rasanya seperti dirampok, meski secara nilai tetap sama.

Ini bukan kebodohan.

Ini trauma kolektif.

Kita pernah dikibuli terlalu sering. Reformasi moneter tahun 1965 yang bikin tabungan orang lenyap. Krisis 98 yang bikin rupiah ambruk.

Jadi ketika pemerintah bilang "percaya deh, ini cuma ganti angka", reaksi alaminya adalah curiga.

Dan kekhawatiran ini punya logikanya sendiri.

Redenominasi butuh kepercayaan penuh pada stabilitas ekonomi. Kita tidak punya itu. Inflasi kita masih naik turun. Harga sembako tidak pernah stabil lama.

Pedagang kecil juga bingung.

Mereka harus ganti label harga, ganti mesin kasir, jelasin ke pembeli yang protes. Biaya tersembunyi yang tidak pernah diganti pemerintah.

Belum lagi mental harga.

Sekarang kopi lima belas ribu terasa murah. Kalau jadi lima belas rupiah? Terdengar seperti hampir gratis, padahal nilainya sama.


Psikologi harga ini bisa bikin chaos di pasar.

Penjual takut rugi, naikkan harga sedikit "buat jaga-jaga". Pembeli merasa dicurangi, protes. Kepercayaan makin runtuh.

Siklus setan.

Negara yang berhasil redenominasi punya satu kesamaan. stabilitas ekonomi bertahun-tahun dan kepercayaan publik yang tinggi.

Turki gagal tahun 2005 karena inflasi masih gila. Brasil butuh tiga kali percobaan baru berhasil.

Kita bahkan belum mulai percobaan pertama.

Karena deep down, kita semua tahu ekonomi kita masih rapuh. Satu guncangan eksternal, rupiah bisa goyang lagi.

Jadi pemerintah mundur.

Bukan karena tidak bisa, tapi tidak berani ambil risiko politik. Kalau gagal, yang disalahkan bukan sistem, tapi pemimpin.

Dan itulah mengapa redenominasi jadi wacana abadi yang tidak pernah terealisasi.

Bukan karena mustahil.

Tapi karena kita belum siap kehilangan kepercayaan yang tersisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Memendam Emosi: Mental Rapuh

Ada orang yang tampak selalu tenang, jarang marah, bahkan jarang menangis. Di mata orang lain, mereka terlihat kuat, rasional, dan mampu mengendalikan diri. Tapi kenyataannya, seseorang yang tidak pernah mengekspresikan emosinya secara sehat sedang menumpuk tekanan dari dalam. Menahan perasaan baik itu kemarahan, kesedihan, frustrasi, atau kekecewaan tidak membuatnya hilang. Sebaliknya, emosi itu bertransformasi menjadi tekanan halus yang konstan, yang lama-lama bisa memicu stres kronis, kecemasan, depresi, dan kerentanan mental yang lebih besar daripada orang yang tampak emosional. Orang yang jarang menangis, misalnya, mungkin telah belajar bahwa menunjukkan kesedihan adalah tanda kelemahan. Setiap air mata yang ditahan menjadi energi emosional yang tersimpan, yang pada akhirnya bisa meledak di situasi yang tampak sepele. Mereka mungkin selalu terlihat tegar di depan teman, keluarga, atau rekan kerja, tapi di balik itu, ada ketidakstabilan yang tidak terlihat.  Contohnya, seseoran...

Kenapa Otak Manusia Lebih Suka Siksaan Psikologis Daripada Kepastian?

Ketidakpastian adalah bentuk siksaan paling halus yang diciptakan pikiran manusia. Ada alasan mengapa kita lebih tersiksa oleh “bagaimana kalau” daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Otak kita dibangun oleh sejarah panjang evolusi yang memprioritaskan kewaspadaan. Di masa lalu, salah menyimpulkan ancaman bisa berarti mati, sehingga otak belajar bersikap curiga terhadap segala hal yang tidak jelas. Masalahnya, insting itu masih bekerja di zaman modern, di mana bahaya fisik jarang terjadi, tetapi ancaman emosional terasa jauh lebih nyata. Ketika seseorang tidak memberi jawaban, ketika hasil yang kita tunggu tak kunjung datang, atau ketika hidup terasa menggantung di antara pilihan yang belum kita ambil otak otomatis masuk ke mode siaga, seakan musuh sedang datang, padahal tidak ada apa-apa di depan kita kecuali kecemasan sendiri. Ketidakpastian menciptakan ruang kosong, dan ruang kosong itu selalu diisi oleh imajinasi yang paling gelap. Manusia berpikir bahwa membayangkan kemungkin...

Apakah Harta Bisa Dibawa Mati?

Manusia menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa mereka genggam selamanya. Harta, posisi, kenyamanan semua itu hanya singgah, tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Dan ketika hidup berakhir, tidak ada yang ikut menemani kecuali amal dan nilai yang kita tinggalkan untuk orang lain. Harta memang tidak bisa kita bawa masuk ke dalam kubur secara fisik. Tetapi nilai dari harta itu masih bisa mengikuti perjalanan kita bukan dalam bentuk benda, melainkan dalam bentuk pahala, jejak kebaikan, dan kebermanfaatan yang terus hidup setelah kita tiada. Itulah mengapa sedekah, wakaf, membantu sesama, atau menggunakan harta untuk hal yang bermanfaat menjadi jalan yang membuat harta itu tetap hidup bahkan ketika pemiliknya sudah tidak bernapas. Harta yang dipakai hanya untuk memanjakan diri akan hilang bersama waktu. Tapi harta yang dipakai untuk menolong orang lain, membangun sesuatu yang bermanfaat, atau membantu kehidupan seseorang itu adalah harta yang tidak mat...