Kita Tidak Percaya.
Bayangkan begini. Pemerintah bilang seribu rupiah jadi satu rupiah. Nilai sama, cuma angkanya dipangkas nol.
Secara matematis masuk akal.
Tapi tidak semua orang berfikir seperti itu .
Misalnya Nenek di pasar tradisional yang jual sayur, dia tidak peduli penjelasan ekonomi makro. Dia cuma tahu uang dia tiba-tiba jadi "kecil".
Tiga puluh ribu rupiah jadi tiga puluh rupiah.
Rasanya seperti dirampok, meski secara nilai tetap sama.
Ini bukan kebodohan.
Ini trauma kolektif.
Kita pernah dikibuli terlalu sering. Reformasi moneter tahun 1965 yang bikin tabungan orang lenyap. Krisis 98 yang bikin rupiah ambruk.
Jadi ketika pemerintah bilang "percaya deh, ini cuma ganti angka", reaksi alaminya adalah curiga.
Dan kekhawatiran ini punya logikanya sendiri.
Redenominasi butuh kepercayaan penuh pada stabilitas ekonomi. Kita tidak punya itu. Inflasi kita masih naik turun. Harga sembako tidak pernah stabil lama.
Pedagang kecil juga bingung.
Mereka harus ganti label harga, ganti mesin kasir, jelasin ke pembeli yang protes. Biaya tersembunyi yang tidak pernah diganti pemerintah.
Belum lagi mental harga.
Sekarang kopi lima belas ribu terasa murah. Kalau jadi lima belas rupiah? Terdengar seperti hampir gratis, padahal nilainya sama.
Psikologi harga ini bisa bikin chaos di pasar.
Penjual takut rugi, naikkan harga sedikit "buat jaga-jaga". Pembeli merasa dicurangi, protes. Kepercayaan makin runtuh.
Siklus setan.
Negara yang berhasil redenominasi punya satu kesamaan. stabilitas ekonomi bertahun-tahun dan kepercayaan publik yang tinggi.
Turki gagal tahun 2005 karena inflasi masih gila. Brasil butuh tiga kali percobaan baru berhasil.
Kita bahkan belum mulai percobaan pertama.
Karena deep down, kita semua tahu ekonomi kita masih rapuh. Satu guncangan eksternal, rupiah bisa goyang lagi.
Jadi pemerintah mundur.
Bukan karena tidak bisa, tapi tidak berani ambil risiko politik. Kalau gagal, yang disalahkan bukan sistem, tapi pemimpin.
Dan itulah mengapa redenominasi jadi wacana abadi yang tidak pernah terealisasi.
Bukan karena mustahil.
Tapi karena kita belum siap kehilangan kepercayaan yang tersisa.
Komentar
Posting Komentar