Ber-Inovasi.
Kedengarannya terbalik. Tapi ini kenyataan di banyak tempat kerja… di Indonesia
Perusahaan bilang mereka ingin inovasi. Mereka pajang poster "think different" di dinding. Mereka bikin program ide karyawan. Mereka kasih penghargaan inovator terbaik.
Tapi begitu ada yang benar-benar inovasi, yang terjadi justru sebaliknya.
Atasan merasa terancam.
Karena inovasi berarti ada yang salah dengan cara lama. Dan cara lama adalah cara yang atasan bangun selama bertahun-tahun.
Inovasi adalah kritik tanpa bersuara.
Rekan kerja mulai jaga jarak.
Karena kalian membuat mereka terlihat tidak produktif. Kalian bikin standar baru yang lebih tinggi. Dan tidak semua orang suka ketika mistar dinaikkan.
Sistem menolak perubahan.Birokrasi memakan waktu. Proposal harus lewat lima layer persetujuan. Budget tidak ada. Timing tidak tepat. Nanti saja tahun depan.
Dan tahun depan tidak pernah datang.
Yang lebih berbahaya, inovasi membuat kalian terlihat tidak loyal pada metode yang sudah ada.
Padahal loyalitas di banyak perusahaan bukan soal hasil. Tapi soal patuh pada aturan main yang sudah mapan.
Orang yang terlalu kreatif di lingkungan kerja justru sering dinilai tidak cocok dengan budaya perusahaan. Mereka dianggap troublemaker meskipun ide mereka brilian.
Karena mayoritas organisasi didesain untuk stabilitas. Bukan untuk disrupsi.Inovasi itu chaos. Dan manusia takut chaos.Manajemen takut kehilangan kontrol. Rekan kerja takut kehilangan zona nyaman. Sistem takut kehilangan prediktabilitas.
Maka yang terjadi adalah penolakan halus.
Tidak ada yang bilang "ide kamu buruk." Tapi ide itu tidak pernah dieksekusi. Tidak ada yang bilang "kamu masalah." Tapi promosi tidak pernah datang. Kalian jadi orang yang dianggap terlalu ambisius. Terlalu idealis. Tidak realistis. Padahal kenyataannya, kalian hanya mencoba membuat sesuatu lebih baik.
Dan ini yang ironis.
Perusahaan yang paling sering teriak butuh inovasi adalah perusahaan yang paling tidak ramah pada inovator. Mereka ingin hasil dari inovasi. Tapi tidak mau menerima konsekuensinya.
Konsekuensi bahwa inovasi selalu mengacaukan status quo. Selalu bikin tidak nyaman. Selalu ada risiko gagal.
Jadi yang aman adalah diam saja.
Ikuti arus. Jangan terlalu menonjol. Jangan bikin gelombang.
Ini yang dilakukan mayoritas orang. Dan karir mereka baik-baik saja. Naik pelan-pelan. Gaji naik. Pensiun tenang.
Sedangkan yang inovasi?
Beberapa berhasil besar. Tapi lebih banyak yang mandek di tengah jalan karena sistemnya memang tidak mendukung.
Mereka yang bertahan biasanya pindah ke startup. Atau buka usaha sendiri. Di mana inovasi bukan ancaman, tapi kebutuhan.
Ada yang bilang gen-Z Sekarang terlalu mudah berpindah kerja. Tidak loyal. Tidak sabaran.
Padahal mungkin mereka hanya tidak tahan bekerja di tempat yang meminta inovasi di mulut tapi membunuhnya di praktik. Jadi kalau kalian bertanya apa yang diam-diam menghancurkan karir, jawabannya bukan malas atau tidak kompeten.
Tapi justru terlalu bersemangat berinovasi di tempat yang salah.
Di tempat di mana inovasi hanya jargon. Bukan budaya.
Dan sayangnya, tempat seperti itu lebih banyak daripada yang kalian kira.
Based on a True Story
Good Job sirr
BalasHapus